Trik-Tips Blog

Jumat, 19 Februari 2010

Cara mengatasi rasa gatal


Kenapa kita tidak bisa menghentikan menggaruk masih menjadi teka-teki besar bagi para peneliti," kata Zhou-Feng Chen ahli ilmu syaraf di Washington University St Louis.

"Gatal bisa mengganggu pasien dan menimbulkan hilangnya kualitas kehidupan," kata Matthias Ringkamp , peneliti di Johns Hopkins University di Baltimore. "Sayangnya perawatan untuk gatal belum memuaskan."

Penemuan terbaru yang disebut "gen gatal," mungkin memberikan harapan perawatan lebih baik, kata Chen. Obat untuk memblok gen itu diharapkan mampu mengurangi tekanan rasa gatal.

Pakar-pakar pruritus � sebutan ilmiah untuk gatal � menggabarkan hasil penelitiannya awal pekan lalu di pertemuan tahunan Perkumpulan Ilmu Syaraf di Washington .

Untuk tipe gatal ringan dapat dihilangkan dengan obat antihistamine semacam Benadryl. Namun gatal yang parah sulit untuk di atasi.

``Tipe kedua sering diderita dan umum terjadi, dimana lebih dari 50 penyakit dan kondisi bisa menimbulkan hal itu. Belum ada cara perawatan untuk gatal tingkat parah,'' kata Glenn J Giesler, pakar ilmu syaraf University of Minnesota di Minneapolis.

Ben Maddison , peneliti Unilever, perusahaan multinasional penghasil produk konsumer memperkirakan 10% manusia yang hidup di bumi menderita penyakit gatal kronis.

Gen yang berhubungan dengan gatal ditemukan oleh Chen disebut GRPR, atau gastrin-releasing peptide receptor. Saat disuntikkan di bawah kulit tikus, binatang itu menggaruknya hingga kesetanan.

"Penemuan ini mungkin bisa mengurangi rasa gatal pasien dengan memblok fungsi GRPR,'' kata Chen.

Gatal krionis bisa disebabkan oleh penyakit ginjal, hati, darah, HIV, eksim serta hal lain. Ilmuwan menegaskan tindakan menggaruk tidak membantu mengurangi rasa gatal

Cara mengatasi kegemukan


Nandar blog.com, Washington � Ilmuwan berhasil mengidentifikasi substansi pemberi sinyal ke otak yang menentukan kapan berhenti makan. Penemuan terbaru ini membuka peluang, untuk melawan kegemukan yang menjadi masalah di seluruh dunia.

Dilaporkan pada journal Cell, peneliti AS yang melakukan penelitian pada tikus mendapati NAPE sebagai penunjuk berapa banyak yang dimakan oleh binatang. NAPE ini juga ada pada manusia dan melakukan hal yang sama.

Gerald Shulman di Yale University dan Howard Hughes Medical Institute mengatakan mamalia yang diberi makanan berlemak, menghasilkan banyak NAPE yang kemudian dibawa ke darah. Jika dikirim ke otak akan menjadi penghenti sinyal lapar.

Tingkat NAPE akan penuh jika mamalia memakan makanan yang berlemak, namun berbeda jika hanya makan protein dan karbohidrat.

Peneliti kemudian mensintesa NAPE dan menyuntikkan ke perut binatang dan hasilnya nafsu makannya turun drastis. Saat NAPE dikirim langsung ke otak dalam jumlah lebih kecil, efeknya sama dengan suntikan dalam jumlah besar ke darah.

NAPE dibentuk dalam hypothalamus, struktur otak yang diketahui mengelola rasa lapar, serta mengatur neuron yang menimbulkan nafsu makan.

Saat mamalia diberi NAPE lebih banyak lagi selama lima hari, binatang akan makan lebih sedikit dan kehilangan berat badan.

Dengan kejadian kegemukan yang terus meningkat di seluruh bagian dunia, ilmuwan makin tertantang mencari jalan mengatasi masalah itu. Penemuan ini akan membantu usaha membuat obat penekan nafsu makan dan mengurangi kegemukan.

Ilmuwan terus mencari bagaimana cara tubuh memberitahu otak dalam mengontrol asupan makanan. Hormon semacam leptin yang membantu mengatur sistem ini terbukti tidak berhasil dalam usaha mengurangi berat tubuh. Ujar nandar dengan penuh semangat